RSS

Membuka Ke-terisolir-an Labuang Baruak

16 Agu

Labuang Baruak

Warga  kampung Labuang Baruak Sungai Bungin nagari Koto Nan Duo IV Koto Hilie kecamatan Batang Kapas hingga saat ini masih merasakan keterisoliran dan ketertinggalan. Hal ini disebabkan karena perkampungan yang berada pada pesisir pantai di teluk Sungai Bungin Batang Kapas ini, sampai sekarang belum memikiki akses jalan yang bisa dilewati oleh kendaraan.

Sejak dulunya Labuang Baruak belum punya sarana  transportasi darat yang dapat menghubungkan daerah itu dengan daerah lainnya di Batang Kapas. Dengan kondisi keterisolirannya ini, menyebabkan kesulitan warga untuk bepergian masuk dan keluar Labuang baruak. Sampai saat ini, untuk bepergian dari dan ke Labuang Baruak mereka harus melalui jalur laut dengan menaiki perahu mesin (kapal bot).

Labuang Baruak adalah sebuah pemukiman penduduk yang termasuk dalam kampung Sungai Bungin, yang saat ini dihuni oleh 27 Kepala Keluarga dengan 143 jiwa. Mayoritas mata pencaharian masayrakatnya adalah sebagai nelayan tradisional.

Secara geografis sebenarnya kampung ini masih menyatu dengan pulau Sumatera, namun medan berbukit yang masih berupa hutan rimba tanpa sarana jalan, mengesankan seolah-olah perkampungan ini terpisah dan berada di sebuah pulau lain.

Sangat jarang orang luar yang datang berkunjung ke kampung ini, apa lagi pejabat. Sehingga bila ada tamu yang datang apa lagi dari rombongan pejabat akan disambut dengan rasa suka cita oleh warga.

Masyarakat di kampung itu semuanya masih tergolong miskin, kondisi ini disebabkan karena akses ke kampung ini sangat sulit. Satu-satunya cara yang sering adalah dengan menggunakan perahu sewaan dari teluk Sungai Bungin. Kalaupun dengan menggunakan jalan darat, masyarakat disana harus berjalan menelusuri jalan setapak di tengah hutan rimba dengan jarak tempuh 1,5 jam jalan kaki.

Kondisi susah seperti ini sangat dirasakan sekali terutama oleh anak-anak sekolah. Sebagian mereka terpaksa harus kos di luar kampung. Sebagian lagi diantaranya juga ada yang berulang dari rumah seperti dilakukan oleh beberapa orang anak-anak yang sekolah di SDN 05 Sungai Bungin.

Setiap hari mereka secara bergerombolan harus berangkat dari rumah pukul 05.30 WIB agar tidak terlambat sampai ke sekolah. Itupun  dengan menyelusuri hutan yang hanya memiliki jalan setapak. Ironisnya, di tengah perjalanan mereka sering dikejutkan oleh binatang buas. Belum lagi ketika air laut pasang, mereka terpaksa berenang menyeberangi salah satu muara yang tidak memiliki jembatan, yang bisa saja mengintai keselamatan.

Selain tidak ada jalan, daerah ini juga tidak memiliki sarana kesehatan seperti Pusat Kesehatan Nagari (Puskesri). Selain itu sarana air bersih dan penerangan juga tidak tersedia. Sehubungan dengan tidak adanya sarana dan tenaga kesehatan yang cukup dikeluhkan warga setempat adalah apabila ada warga Labuang Baruak yang harus dirawat atau hamil mau melahirkan, mereka harus terpaksa dibawa keluar Labuang Baruak dan menumpang atau menyewa rumah. Hal ini juga disebabkan karena tidak ada dokter dan bidan desa yang juga tidak berada di tempat.

Akankah kondisi seperti ini masih tetap dirasakan masyarakat Labuang Baruak dalam era kemerdekaan ini? Tentu saja tidak. Setahap demi setahap usaha membuka keterisoliran mesti dilakukan. Untuk itu keterisoliran Labuang Baruak sudah sepatutnya menjadi perhatian pihak pemerintah dengan semua jajarannya. Namun juga tidak terlepas dari partisipasi masyarakat sekitar secara umum. Labuang Baruak sudah seharusnya lepas dari keterisoliran dan ketertinggalan.

Langkah awal untuk membuka keterisoliran Labuang Baruak adalah dengan membuka akses jalan darat, dan kemudian tentu disusul dengan sarana dan prasarana lainnya.

Menaggapi keluhan masyarakat setempat, kehadiran Bupati Pesisir Selatan H. Nasrul Abit, telah membawa angin segar. Untuk membuka keterisoliran labuang Baruak, Bupati awal juli lalu telah melakukan peninjauan ke Labuang Baruak dalam rangka melihat kehidupan masyarakat setempat dan kondisi daerahnya yang belum memiliki sarana dan prasarana yang memadai layaknya sebagai pemukiman penduduk. Bupati Nasrul Abit akan segera menurunkan tim dari dinas PU untuk melakukan survey perencanaan pembangunan jalan untuk melakukan pengukuran berapa panjang yang akan dilalui untuk sampai ke tempat itu. Pengusulan pembangunan jalan tersebut akan dimasukan pada APBD Perubahan yang sedang dalam tahapan pembahasan di tingkat DPRD bersama eksekutif. Kita berharap rencana pembukaan jalan ke Labuang Baruak dapat segera terealisasi.

Jika pembahasan itu tuntas dan disahkan, maka dalam tahun ini akses ke Labuang Baruak  ini akan terbuka. Meraka yang berjumlah 27 KK dengan 143 jiwa itu  tidak terisolasi lagi sebagai mana saat ini, demikian harapnya. Semoga saja.

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 16 Agustus 2011 in Batang Kapas Pessel

 

Tag: , ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s